Skip to main content
Jenis mikroplastik yang sering ditemukan di perairan Surabaya, yaitu fiber atau serat. (dok. Ecoton)
Reportase
Dikepung Racun di Darat, Laut, dan Udara Surabaya
Warga Surabaya mungkin tidak pernah membayangkan udara yang mereka hirup dan air yang mengalir di sungai-sungai kotanya, ternyata menyimpan bom waktu. Bom yang disusun oleh benda tak kasat mata. Benda itu, pembawa racun yang menggerogoti kesehatan warga. Hadir tanpa terasa, tak kasat mata, namun bahayanya nyata.

YA, BENDA itu bernama mikroplastik. Disebut mikro karena merupakan pecahan dari plastic yang berukuran sangat kecil, kurang dari 5 mm. Tak mungkin terlihat dengan mata telanjang. Hanya dengan bantuan mikroskop, mikriplastik bisa dilihat. Bentuknya beragam, ada serpihan ada juga yang berbentu fiber seperti benang. 

Di Sungai Kalimas, salah satu sungai utama di Surabaya, mikroplastik menggelayut mengikuti aliran air. Mikroplastik di aliran sungai ini, berasal dari limbah industri, rumah tangga, sampah laut sampai gesekan ban kendaraan bermotor dengan aspal di jalanan kota. Industri kertas, dituding menjadi salah satu penyumbang polutan beracun.

“Banyak industri di sekitar aliran Sungai Surabaya termasuk di wilayah Sidoarjo, Gresik yang memanfaatkan musim hujan untuk membuang limbah cair ke sungai, dengan alasan air sungai sedang tinggi sehingga pencemaran akan tercampur dan sulit dideteksi,” kata juru kampanye Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi, 15 November 2025.

 

Peneliti Ecoton mengambil sampel air sungai yang mengalir sampai ke Kota Surabaya. Tampak busa yang menandakan tingginya polutan akibat limbah yang dibuang di sepanjang aliran sungai. (Dok. Ecoton)

Prigi mengungkapkan, Ecoton berulang kali melakukan penelitian dan uji laboratorium untuk menginvestigasi kandungan limbah yang dibuang pabrik-pabrik, khususnya kertas. Ditemukan kandungan mikroplastik yang sangat tinggi. Pembuangan itu dilakukan setiap hari. Artinya, pabrik-pabrik itu menganggap sungai sebagai tempat sampah mereka.

“Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm yang dapat mencemari perairan, yang berasal dari sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik,” kata peneliti Ecoton Muhammad Alaika Rahmatullah. Alex mengungkapkan, begitu ia disapa, mikroplastik sudah masuk ke metabolisme tubuh mahluk hidup di sungai, bahkan manusia.

Kadar Kontaminasi Surabaya Tinggi

Ecoton melakukan susur sungai sepanjang aliran Kali Surabaya pada Mei 2025 lalu. Titik pengambilan sampel meliputi, Kramat Temenggung, Wringinanom, dan Karangpilang. Dari ketiga titik itu, Ecoton mengumpulkan beberapa makhluk air. Mulai plankton, udang kecil dari famili Atyidae, hingga kepiting air tawar.

Di bawah mikroskop, mikroplastik terlihat ada di dalam sel binatang air itu. Ada yang bentuknya seperti serat halus (fiber), pecahan kecil (fragmen) atau lapisan tipis (film).

Sebagian besar berwarna hijau kekuningan dan menempel di dalam sel makhluk-makhluk air tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan, semua lokasi yang diteliti terpapar mikroplastik. Tetapi pencemaran paling parah terjadi di bagian hilir yang berada di Surabaya. Celakanya, air sungai di bagian hilir menjadi bahan baku air minum warga kota.

Di Kramat Temenggung (hulu), jumlah mikroplastik pada kepiting air tawar mencapai sekitar 55 partikel/gram. Di Wringinanom (tengah) angkanya jauh lebih rendah, yaitu 15 partikel/gram. Namun di Karangpilang yang berada di wilayah Surabaya, jumlahnya kembali naik tinggi menjadi 52 partikel/gram.

 

Peneliti Ecoton melakukan uji kontaminasi mikroplastik di perairan Kota Surabaya. Kontaminasi ini disebabkan beberapa faktor. Mulai pembakaran sampah plastik, penggunaan plastik sekali pakai, industri yang menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar sampai gesekan ban kendaraan bermotor dengan aspal. (Dok. Ecoton)

Alex menjelaskan, mikroplastik berbentuk serat plastik (fiber) biasanya dari pakaian yang dicuci, limbah tekstil, dan jaring atau alat pancing yang rusak. Sedangkan fragmen dan film plastik berasal dari pecahan kantong belanja, kemasan makanan, dan sampah plastik. Sedangkan pellet bisa berasal dari bahan baku plastik industri.

Semua sampah ini, kata Alex, terbawa aliran air, masuk ke sungai, lalu pecah menjadi potongan-potongan kecil yang akhirnya termakan oleh plankton, udang, dan kepiting. 

“Mikroplastik ini dapat terkumpul di dasar sungai dan berisiko mengancam organisme perairan, termasuk ikan, yang akhirnya akan masuk ke rantai makanan manusia,” ucapnya.

Air Hujan pun Tercemar Mikroplastik

Ancaman kandungan mikroplastik juga menerjang warga dari air hujan. Riset mikroplastik dalam air hujan yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menunjukkan, cemaran mikroplastik ini mengkhawatirkan dan akan jadi ancaman serius bagi kesehatan warga.

 

Grafik balok ini menunjukkan hasil kelimpahan mikroplastik di air hujan di lima lokasi Kota Surabaya. (Data: Ecoton)

Penelitian yang dilakukan pada 11-14 Nopember 2025 di 5 lokasi di kota itu menunjukkan lokasi paling tercemar mikroplastik adalah daerah Pakis Gelora sebanyak 356 partikel mikroplastik (PM) /liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309PM/L. Bisa dibayagkan, air hujan berisi mikroplastik masuk ke sela-sela tanah, mengalir ke sungai dan laut. Memenuhi mata rantai pangan manusia. 

Jika manusia terpapar mikroplastik atau memakan hewan air yang sudah tercemar, maka berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Mikroplastik dapat membawa bahan kimia berbahaya dan logam berat yang menempel di permukaannya. Saat masuk ke tubuh, partikel kecil ini bisa memicu gangguan pencernaan seperti sakit perut, diare, dan iritasi usus.

 

Hasil penelitian Ecoton menunjukkan, air hujan di Surabaya mengandung mikroplastik. Kondisi ini sangat berbahaya karena mikroplastik menjadi medium pembawa racun berupa logam berat yang sudah di temukan di sel tubuh manusia. (Robertus Risky/ Project Arek)

Dalam jangka panjang, bisa memicu peradangan kronis, gangguan hormon, masalah kesuburan (impotensi), kerusakan hati, hingga meningkatkan risiko penyakit penyakit kanker dan jantung. Para peneliti Ecoton menyadari, publik harus diliterasi terus menerus karena efek racun mikroplastik dirasakan dalam jangka panjang.

Racun di Udara Bikin Rawan ISPA

Staf Kampanye Divisi Jaringan Publik Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Muhammad Jibril mengerutkan dahi melihat hasil uji kualitas udara di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo. Konsentrasi PM2.5 dan PM10 di udara secara konsisten melampaui ambang aman, bahkan mencapai >100 µg/m³ pada jam-jam operasional PLTSa. Angka tersebut berpotensi membahayakan kesehatan.

PM10 adalah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang, sedangkan PM2.5 adalah partikel yang lebih halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Konsentrasi yang lebih tinggi menunjukkan tingkat polusi udara yang lebih buruk, dengan PM2.5 dianggap lebih berbahaya karena ukurannya yang kecil memungkinkan menembus jauh ke dalam paru-paru hingga aliran darah.

WALHI Jawa Timur bersama relawan dari komunitas antara November 2024 hingga Januari 2025. Sejak beroperasi pada 2021, PLTSa Benowo diklaim mampu mengolah 1.600 ton sampah per hari dan menghasilkan 12 Megawatt listrik. Namun, di balik klaim efisiensi tersebut, warga sekitar justru menghadapi bau menyengat, debu halus, dan gangguan kesehatan pernapasan.

 

Dari hasil uji kualitas udara, peneliti Walhi Jawa Timur menemukan polusi udara di sekitar PLTSa Benowo melebihi ambang batas. Walhi Jatim menilai, penanganan sampah di Surabaya dengan metode pembakaran, bukanlah solusi karena residu pembakaran dinilai mencemari lingkungan. (Farid Rahman/ Project Arek)

Walhi Jatim telah melakukan pemantauan kualitas udara di kawasan Benowo selama empat bulan pada pertengahan 2025. Mereka, menggunakan dua metode sekaligus, yakni stasiun pemantau dan mobile monitoring. Para peneliti menaruh alat pemantau baku udara di titik-titik dalam radius tiga kilometer dari PLTSa Benowo.

“Selama pemantauan kurang lebih empat bulan dengan dua metode stasiun sama mobile, itu kami temukan polusi udara di sekitar PLTSa Benowo itu sudah melampaui baku mutu yang ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) maupun oleh [pemerintah] pusat,” kata Jibril.

Ancaman itu muncul seperti angin yang berhembus di kawasan Surabaya paling barat. Ketika cerobong PLTSa Benowo mengepulkan asap operasionalnya. PLTSa Benowo berdiri berdampingan dengan gunungan sampah di TPA Benowo, serta bertetangga dengan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), markas kebanggaan Arek-arek Suroboyo, Persebaya.

Hasil pemantauan itu, angka polusi tercatat menunjukkan kondisi yang jauh dari aman. Dalam rata-rata harian, udara di sekitar Benowo mengandung partikel debu halus atau Particulate Matter (PM), berukuran PM2,5 mencapai 26,78 µg/m3 (mikrogram per meter kubik). Artinya, udara di sekitar Benowo mengandung partikel halus hampir dua kali lebih tinggi dari batas aman yang ditetapkan WHO yang hanya 15 µg/m3. 

Bahkan melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah sendiri, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, di angka 55 µg/m3. Yang makin mengkhawatirkan, titik tertinggi polusi PM2,5 di Benowo pernah mencapai 100 µg/m3, atau sekitar enam kali lipat standar WHO. Untuk PM10 juga tercatat tinggi, menyentuh 150 µg/m3 dalam satu hari.

“Jadi, kalau di PM2,5-nya itu ada di angka 26,78 µg/m3. Dan bahkan puncak untuk PM 2,5 itu bisa sampai ke 100 µg/m3. Jadi, itu rata-rata 24 jam. Sedangkan kalau guideline-nya WHO untuk PM 2,5 itu ada di 15 µg/m3. Kalau untuk [standar] nasional itu ditetapkan oleh [pemerintah] pusat di angka 55 µg/m3,” kata dia.

Dengan kata lain, warga Surabaya yang berada di sekitar PLTSa Benowo setiap hari menghirup udara yang sudah jauh melampaui kategori aman. Dan kondisi ini bisa membawa risiko kesehatan jangka panjang bila terus biarkan. Partikel-partikel halus yang tak terlihat itu dapat menyelinap masuk jauh ke dalam paru-paru manusia, lalu mengalir bersama darah, memicu peradangan hingga risiko penyakit kronis.

Bukan hanya sekadar batuk, sesak napas atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), studi epidemiologis menunjukkan paparan kronis terhadap PM2.5 berkaitan erat dengan meningkatnya kasus kanker paru, penyakit jantung, stroke dan bahkan kematian dini. Efek ini bersifat kumulatif dan bisa berlangsung selama bertahun-tahun, terutama jika paparan terjadi secara terus-menerus tanpa perlindungan dan mitigasi.

“Pencemaran melalui metode insinerasi (pembakaran sampah) memiliki kandungan dioksin dan furan yang merupakan senyawa penyebab kanker. Jadi itu yang menjadi konsen paling utamanya. Cuma memang tidak menutup kemungkinan ada penyakit lain . Katakanlah cacat kehamilan, keguguran atau mengancam ketahanan tubuh,” ucap Jibril.

Karena itu, bagi Walhi, teknologi waste to energy atau sampah menjadi energi seperti pada PLTSa Benowo bukanlah solusi menyelesaikan persoalan sampah. Hal itu justru menambah masalah baru, yakni polusi serta kesehatan. Walhi Jawa Timur menilai Pemkot Surabaya tertutup perihal dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTSa Benowo.

Jibril mengatakan, Walhi akan terus menempuh jalur resmi untuk memperoleh dokumen AMDAL PLTSa Benowo, yang menurut mereka belum diberikan secara terbuka meski telah diajukan sejak 2022. Padahal, dokumen ini harus bisa diakses publik sebagai begian dari transparansi dan akuntabilitas sebuah kebijakan yang diambil pemerintah.

Pemkot Surabaya Membantah

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya bersama PT Sumber Organik mengeklaim PLTSa Benowo beroperasi tanpa mencemari lingkungan. Berdasarkan uji kualitas udara terbaru yang dilakukan oleh laboratorium terakreditasi, emisi yang dihasilkan PLTSa Benowo berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.

“Kami tidak hanya memastikan PLTSa Benowo berjalan efisien, tapi juga memastikan seluruh prosesnya aman bagi warga sekitar. Hasil ini membuktikan bahwa udara di sekitar PLTSa tetap bersih dan sehat,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, dalam keterangan resmi Pemkot Surabaya.

Dedik menjelaskan, pengujian ini melibatkan parameter debu partikulat PM2.5 di area sekitar cerobong dan permukiman, serta emisi dari cerobong PLTSa itu sendiri. Misalnya pengujian di titik buang aktif atau di dekat cerobong (827 meter dari cerobong) sebesar 3,9 µg/Nm3 dan di titik buang tidak aktif (448 meter) sebesar 2,8 µg/Nm3.

Angka ini jauh di bawah baku mutu udara ambien yang ditetapkan, yaitu 55 µg/Nm³ melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 22 Tahun 2021. “Kemudian pengukuran di permukiman Jawar (1,2 km dari TPA Benowo) menunjukkan kadar PM2.5 sebesar 1,6 µg/Nm3. Ini membuktikan bahwa lingkungan permukiman tetap aman dari paparan emisi,” ungkap Dedik.

Selain itu, ujar Dedik, emisi yang dihasilkan dari tiga boiler PLTSa terpantau sangat rendah. Boiler 1 tercatat 2,0 mg/Nm3, boiler 2 sebesar 3,5 mg/Nm3, dan boiler 3 sebesar 2,5 mg/Nm3. Angka-angka ini jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 120 mg/Nm³ sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 15 Tahun 2019.

Ia juga mengeklaim, Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai upaya pencegahan pencemaran mikroplastik di lingkungan. Salah satunya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah menerbitkan peraturan wali kota (Perwali) Nomor 16 tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

“Selain itu kita juga menggencarkan kampanye kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik. Misalnya, belanja-belanja jangan pakai tas kresek, kemudian ada anak-anak sekolah bawa tumbler, termasuk larangan membakar sampah,” pungkasnya.